Langsung ke konten utama

Bagaimana Sebuah Browser Dapat Menjadi Biang Keributan?

Singkat kata, saya mengerjakan sebuah tugas kerja seperti biasanya (kerja di perusahaan yang lalu). Saya tak membutuhkan aset eksternal macam font atau gambar yang diunduh dari sebuah situs untuk sebuah projek grafis karena tugas saya hanya tracing. Namun saya mengakses Youtube. Bukan ingin melihat film, berita, podcast, ataupun yang membuat distraksi—melainkan hanya ingin mendengar musik. Bukan musik dengan klip bergerak yang butuh ditonton, namun hanya lagu dengan tayangan cover album. Gambarnya statis sepanjang lagu. 

Saya memang penggila musik. Dulu sebelum saya disuruh pulang alm bapak gegara minta bantu2 usahanya (saat itu ngekos sendiri di Surabaya Barat), sering saya sempatkan untuk membeli CD. Lalu CD audio tersebut di-rip pada HDD dengan Windows Media Player untuk koleksi pribadi, bukan untuk dijual lagi sebagai copy bajakan (saya tak akan berbuat rendah begitu). 

Hingga kemudian terkumpul cukup banyak. Ada 250+ yang sebagian di antaranya adalah hasil berburu obral di lebih dari 10 cabang minimarket. Tapi beberapa lalu sempat dilego juga pas pandemi, meski cukup seret karena selain bajakan, layanan streaming macam spotify pun bisa berpengaruh. Saat ini peminatnya masih ada, namun sangat terbatas. Sangat mungkin adalah kolektor. Jika sekadar pendengar musik, mungkin agak jarang—disebabkan kanal untuk mendengar musik (bahkan yang gratis) juga banyak.

Balik ke topik. Saat memutar lagu Youtube itu, saya menggunakan browser Opera. Browser ini punya fitur pop-up-window jika tayangan yang kita putar berjalan terus, namun kita beralih ke tab lain (misalnya membuka email atau mengakses WA via web). Bahkan jika kita bekerja dengan aplikasi lain, pop-up ini akan mengecil di window paling depan (saat itu saya manual-tracing dengan Adobe Illustrator). Jadi, pas pop-up tadi terlihat di pojokan, saya ditegur.

Pop-up video white Lion dari Youtube (bisa digeser atau diperkecil/perbesar).
Muncul otomatis saat kita beralih tab, atau bahkan beralih aplikasi.

Selain ditegur krn dituduh nggk fokus, saya juga dikira meremehkan si bos waktu menjelaskan alasannya. "Kau pikir saya bodoh?"

Yaelah pak. Kalau nggk percaya silakan liat CCTV-nya deh. Tayangan statis gitu apa yang dilihat? Tapi saya memilih diam. Karena penjelasan lebih lanjut pun mungkin akan dipikir cuma 'excuses', bukan 'reasons'. 

Lagipula jika saya sibuk melihat tayangan dan mengabaikan kerja, lalu kapan selesainya? Pekerjaan tak selesai2 bahkan revisi yang panjang pun bisa menimbulkan beban stres tersendiri. Jadi, saya sedapat mungkin menghindari revisi dengan berusaha mencari detail yang nantinya berpotensi akan dipertanyakan dengan nada negatif.

Ada fitur amplifier digital pada Opera untuk memperbesar volume suara pada satu tab. Fungsi ini akan hilang jika tab itu ditutup.


Saya tak sedang di-endorse atau mengiklankan browser ini. Saya tak dibayar sepeserpun, tapi guna mengecek apa yang saya bilang...  silakan deh dicoba instal browser Opera di Windows.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baru Di Bidang Desain Grafis? Mulai Dari Mana?

Ilustrasi. Pixabay/Geralt Mereka yang punya pendidikan Desain Grafis (atau Desain Komunikasi Visual) mungkin tak akan bingung dari mana mereka memulai. Karena mereka punya dasar pijakan pendidikan yang ditempuh yang mengajak mereka berpikir mulai dari sangat awal.  Berbeda dengan mereka yang cuma kursus 'komputer grafis' atau sekadar menjalankan aplikasi/software seperti Corel Draw, Adobe Illustrator, dan lain-lain. Namun saat ini tutorial untuk sesuatu dapat dengan mudah dicari, dan sumbernya banyak sekali. Tak seperti maksimal 15 tahun ke belakang dimana banyak orang masih bergantung pada buku disebabkan biaya untuk terhubung internet masih lumayan tinggi.  Biaya terhubung internet dengan Dial up telepon pada tahun 2007 bisa lebih tinggi dari 500K sebulan, terutama jika banyak mengakses situs multimedia. Namun biaya ini terpangkas lebih dari separuhnya dalam jangka waktu yang sama pada tahun 2020. Efeknya, banyak tutorial dalam bentuk video bisa dicari dan dijadikan acuan. L...

Ada Freeware Yang Lebih Baik Dari Explorer Windows.

Disclaimer: artikel ini mengacu pada OS Windows 10. Jika Anda menggunakan versi Windows 7 atau di bawahnya—atau Windows 11, paparan artikel ini mungkin akan berbeda sedikit.  S aya tak mendapatkan apapun dari pengembang, namun artikel ini berangkat dari pemikiran: apa yang berguna bagi saya... mungkin juga berguna bagi Anda. Ini adalah cara saya berterima kasih. Dengan mereferensikannya. * Screenshot dari aplikasiExplorer. Saya menggunakan Dark Mode Jika Anda bekerja dengan OS Windows , sudah pasti Anda akan mengenal dan membutuhkan aplikasi bernama Explorer yang merupakan bawaan Windows yang termasuk dalam kategori File Manager .  Jendela Windows Explorer (atau File Explorer ) berfungsi untuk mengelola file, membuat folder , melakukan copy-paste antar file, menyeleksi mana file yang akan di-zip dan lain sebagainya. Explorer ini serupa dengan aplikasi Finder pada OS Mac . Namun Explorer tidak dirancang untuk bekerja simultan—kecuali kita membuka beberapa jendela sekaligu...