Langsung ke konten utama

Ada Freeware Yang Lebih Baik Dari Explorer Windows.

Disclaimer: artikel ini mengacu pada OS Windows 10. Jika Anda menggunakan versi Windows 7 atau di bawahnya—atau Windows 11, paparan artikel ini mungkin akan berbeda sedikit. 

Saya tak mendapatkan apapun dari pengembang, namun artikel ini berangkat dari pemikiran: apa yang berguna bagi saya... mungkin juga berguna bagi Anda. Ini adalah cara saya berterima kasih. Dengan mereferensikannya.

*

Screenshot dari aplikasiExplorer. Saya menggunakan Dark Mode


Jika Anda bekerja dengan OS Windows, sudah pasti Anda akan mengenal dan membutuhkan aplikasi bernama Explorer yang merupakan bawaan Windows yang termasuk dalam kategori File Manager.  Jendela Windows Explorer (atau File Explorer) berfungsi untuk mengelola file, membuat folder, melakukan copy-paste antar file, menyeleksi mana file yang akan di-zip dan lain sebagainya. Explorer ini serupa dengan aplikasi Finder pada OS Mac.

Namun Explorer tidak dirancang untuk bekerja simultan—kecuali kita membuka beberapa jendela sekaligus. Dan lagi... dia tidak menyimpan history saat jendela tertutup. Artinya, jika Anda terakhir membuka folder naskah atau dokumen Anda. maka di lain waktu Anda memerlukan beberapa kali klik untuk mencapai folder tersebut, kecuali jika Anda membuat shortcut folder ke Desktop. Namun langkah ini cenderung kurang praktis. Apalagi jika folder tujuan Anda ada banyak, berarti Anda akan membutuhkan banyak shortcut?

Saat membuka jendela Explorer pertama kali, Anda akan masuk ke folder Default. Jika bukan 'Quick Access', ya 'This PC', tergantung apa opsi yang Anda tentukan pada menu 'View > Options > Change Folder and Search Options'. Dan tiap kali Anda membuka jendela File Explorer, tampilan Anda akan berawal dari folder tersebut.

*

Namun, ada solusi untuk kekurangan File Explorer ini: Yakni dengan aplikasi gratis yang mungkin Anda hanya perlu mengirim donasi (ke pengembangnya, bukan ke saya) jika Anda merasakan manfaat dari aplikasi tersebut. Freeware ini saya gunakan selama bertahun-tahun, bahkan sejak sebelum 2010. Cukup lama.

Nama aplikasinya adalah Q-Dir. Anda dapat mengunduhnya di sini.

Dan tampilannya adalah seperti di bawah ini. Aplikasi ini cukup intuitif, Anda dapat bekerja secara mandiri dengannya setelah satu jam bereksplorasi dan melihat mana yang penting dan mana yang tidak penting. Anda dapat membagi jendela dengan 2, 3, atau 4 sub dengan mudah (lihat pada bagian yang dilingkari) dimana Anda butuh 4 jendela File Explorer untuk menyamainya.

Tak cukup dengan itu, Anda juga dapat membuka lebih dari satu tab dimana posisi tab yang penting bagi Anda tersebut akan terbuka sama seperti saat kapan Anda menutupnya. Tak perlu melakukan pencarian yang melelahkan, atau membuat shortcut beberapa folder pada desktop, yang tentunya akan memenuhi layar dan mengurangi estetisnya meski fungsional.


Yang perlu Anda perhatikan adalah, tampilan 'Tree view' di kiri masing-masing sub jendela itu awalnya tak ada dan dapat Anda munculkan sendiri. Menu untuk ini adalah 'Extras > Tree View', dan sub menu-nya ada banyak—yang masing-masingnya Anda dapat coba satu-satu untuk mengetahui perbedaannya. Tak ada yang sulit di sini dan tak perlu takut jika melakukan kesalahan. Fungsi dari Tree View di sini sama dengan File Explorer, yang lebih menunjukkan drive atau folder dan subfolder dalam drive.

Selain, 'Tree View', mungkin yang bisa Anda ulik adalah menu 'Extras > Colors & Design' yang merupakan penentuan tema. Selain itu, cukup gunakan opsi default saja karena lainnya tak terlalu kita butuhkan. Kecuali jika Anda suka iseng dan mengulik sesuatu karena penasaran. Tapi percayalah, saya menggunakan aplikasi ini selama lebih dari 15 tahun.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Sebuah Browser Dapat Menjadi Biang Keributan?

Singkat kata, saya mengerjakan sebuah tugas kerja seperti biasanya (kerja di perusahaan yang lalu). Saya tak membutuhkan aset eksternal macam font atau gambar yang diunduh dari sebuah situs untuk sebuah projek grafis karena tugas saya hanya tracing . Namun saya mengakses Youtube . Bukan ingin melihat film, berita, podcast , ataupun yang membuat distraksi—melainkan hanya ingin mendengar musik. Bukan musik dengan klip bergerak yang butuh ditonton, namun hanya lagu dengan tayangan cover album. Gambarnya statis sepanjang lagu.  Saya memang penggila musik. Dulu sebelum saya disuruh pulang alm bapak gegara minta bantu2 usahanya (saat itu ngekos sendiri di Surabaya Barat), sering saya sempatkan untuk membeli CD. Lalu CD audio tersebut di- rip pada HDD dengan Windows Media Player untuk koleksi pribadi, bukan untuk dijual lagi sebagai copy bajakan (saya tak akan berbuat rendah begitu).  Hingga kemudian terkumpul cukup banyak. Ada 250+ yang sebagian di antaranya adalah hasil berburu...

Baru Di Bidang Desain Grafis? Mulai Dari Mana?

Ilustrasi. Pixabay/Geralt Mereka yang punya pendidikan Desain Grafis (atau Desain Komunikasi Visual) mungkin tak akan bingung dari mana mereka memulai. Karena mereka punya dasar pijakan pendidikan yang ditempuh yang mengajak mereka berpikir mulai dari sangat awal.  Berbeda dengan mereka yang cuma kursus 'komputer grafis' atau sekadar menjalankan aplikasi/software seperti Corel Draw, Adobe Illustrator, dan lain-lain. Namun saat ini tutorial untuk sesuatu dapat dengan mudah dicari, dan sumbernya banyak sekali. Tak seperti maksimal 15 tahun ke belakang dimana banyak orang masih bergantung pada buku disebabkan biaya untuk terhubung internet masih lumayan tinggi.  Biaya terhubung internet dengan Dial up telepon pada tahun 2007 bisa lebih tinggi dari 500K sebulan, terutama jika banyak mengakses situs multimedia. Namun biaya ini terpangkas lebih dari separuhnya dalam jangka waktu yang sama pada tahun 2020. Efeknya, banyak tutorial dalam bentuk video bisa dicari dan dijadikan acuan. L...